Posted by ulfah | Dunia Pendidikan | Wednesday 14 March 2012 2:17 pm
Cerita Lucu dan Menghibur
Iseng-iseng mencari artikel lucu n menghibur, akhirnya ketemu juga artikel dari blog tetangga….
Bagaimana Pendapat/ Pendapatan anda ??
Berikut Ceritanya:… Cerita…Penghasilan Pengemis dan Manager
Suatu hari..seorang manager perusahaan besar sedang makan siang dan sedang ngobrol sama pengemis di warung soto.
Manager : pak, cape ya abis ngemis..? Laper ya pak..?
Pengemis : biasa aja tuh, hari ini udh makan 3x.
Manager : loh..? uangnya cuman buat makan bapak? anak dan istri di rumah makan apa?
Pengemis : kayak orang susah aja..! istri dan anak saya lagi di restoran tau! Tadi barusan telpon saya, mereka lagi makan di Kuningan.
Manager sampai kebingungan dan berkata : emank bapak ngemis 1 hari dapet brp..?
Pengemis : nih ya.. Saya kasi tau..!!Saya ngemis dari jam 07.00-17.00.Lampu merah atau hijau waktu nya 60 detik. Setiap 60 detik paling ngak saya bisa dapet 2.000. 1 jam = 60 kali lampu merah/Hijau
60 x 2.000 = 120.000 /jam 1 hari saya kerja 10 jam, 1 jam buat istirahat jadi 9 jam.
9 jam x 120.000 = 1.080.000/hari.
1 bulan saya kerja 26 hari.
26 hari x 1.080.000 = 28.080.000/bulan
Manager sampai kaget dan bengong mendengar crita pengemis itu..
Pengemis berkata : emang mas jadi manager, gaji per bulannya brp..?
Manager : 15.000.000
Pengemis : ijasah..?
Manager : S1
Pengemis : Pasti abis banyak duit buat kuliah, blom lg kerja kena marah ama boss. Tu kepala penuh isinya soal kerjaan mulu. Mending mas ngemis aja. Biar kaya sperti saya. Saya ngemis udh 10 tahun dan sudah keliling dunia.
Manager: Hahahaha…
Lanjutkan BM biar makin bnyk Org. Dan jadi pengemis…
Silahkan berkomentar bila berpendapat lain dan silahkan melamar jika belum punya pekerjaan…he…
Posted by ulfah | Music (Neyo- Mad) | Saturday 25 February 2012 12:58 pm
Neyo- Mad
Musik Refreshing untuk kita, berikut videonya dan selamat menikmati:
dan berikut Lyricnya:
“Mad”
Oooo oooo oooo
Oooo oooo ummm
She’s staring at me, I’m sitting wondering what she’s thinking
Ummm Nobody’s talking, cause’ talking just turns into screaming (Oooo)
And now as I’m yelling over her, she yelling over me,
all that that means is neither of us are listening,
and what’s even worse, that we don’t even remember why we’re fighting
So both of us are mad for nothing (fighting for)
nothing, (crying for)
nothing, (oohh)
When we won’t let it go for nothing, (come back for)
nothing,
it should be nothing
to a love like what we got oh baby
I know sometimes it’s gonna rain,
But baby can we make up now
cause’ I can’t sleep through the pain (can’t sleep through the pain)
girl I don’t want to go to bed, mad at you
and I don’t want you to go to bed, mad at me
no I don’t want to go to bed mad at you
and I don’t want you to go to bed, mad at me (oh noo)
Umm
and it gets me upset girl when you’re constantly accusing
(asking questions like you already know)
we’re fighting this war, but baby both of us are losing
(this ain’t the way that love is supposed to go, what happened to working it out?)
We fall into this place where you ain’t backing down, and I ain’t backing down,
so what the hell do we do now?
So both of us are mad for nothing (fighting for)
nothing, (crying for)
nothing… (oohh)
When we won’t let it go for nothing,
nothing,
it should be nothing
to a love like what we got oh baby
I know sometimes it’s gonna rain,
But baby can we make up now
cause’ I can’t sleep through the pain (can’t sleep through the pain)
girl I don’t want to go to bed mad at you
and I don’t want you to go to bed, mad at me
no I don’t want to go to bed mad at you
and I don’t want you to go to bed, mad at me (oh noo)
Oh baby this love ain’t gone be perfect, (perfect perfect oh no)
And just how good it’s gonna be
We can fuss and we can fight long as everything is alright between us before we go to sleep…
Baby we’re gonna be…
Happy…. Baby….
ohhhh….ohhhh
I know sometimes it’s gonna rain,
But baby can we make up now
cause’ I can’t sleep through the pain (can’t sleep through the pain)
girl I don’t want to go to bed mad at you
and I don’t want you to go to bed, mad at me
no I don’t want to go to bed mad at you
and I don’t want you to go to bed, mad at me (oh noo, nooo, noo)
Posted by ulfah | Sejarah Kota Tegal | Thursday 23 February 2012 8:29 am
Mengcopy dari artikel forum agan kaskus mengenai sejarah kota Tegal, khususnya daerah-daerah yang ada didalamnya…
mohon dikoreksi dan komentarnya, untuk memperoleh informasi mengenai sejarah kota tegal yang sebenarnya. thanks
berikut artikelnya
Susuhunan Tegalarum
Penulis: Ayu Reditya Dewi
08-11-2010
Susuhunan Tegalarum adalah Amangkurat Agung (Amangkurat satu) yang lebih dikenal dikalangan spiritual dengan sebutan Eyang Puger. Kata Puger sendiri berasal dari Bahasa Sansekerta dan Kawi Paugeran yang artinya Patokan atau Pangeran Pati (Putra Mahkota). Maka, dalam tradisi Mataram setiap Putra Mahkota akan dipanggil dengan nama Puger.
Dalam serat Praniti Radya nama Amangkurat Agung disimbolkan dengan “Layon keli semune satriyo brangti” (layon= mayat, keli= hanyut, semune = artinya, brangti = pejuang dan penaklukkan) yang berarti “Seorang Satriya yang keluar dari istananya untuk mengikuti orang tuanya (layon keli), lalu kembali menduduki Istana dan sibuk berperang menaklukkan kanan-kirinya (satriyo brangti)”. Kata Amangkurat berasal dari kata “Amangku” yang berarti memangku dan “Rat” yang berarti Bawana atau buana atau alam raya. Amangkurat Agung sendiri merupakan putra dari Sultan Agung Anyokro Kusuma dan adalah Raja ke-4 di Mataram. (Raja I adalah Panembahan Senopati/Danang Sutawijaya, Ke-2 adalah Panembahan Anyokrowati/Raden Mas Jolang, Ke-3 adalah Sultan Agung Anyokro kusumo)
Menemukan Posisi Kraton Tegalarum
Situs Tegalarum sendiri berada pada koordinat 6°55’18.98″S dan 109° 7’50.14″E dengan di sebelah Selatan terdapat gunung Slamet pada jarak 36.97 Km dengan arah 165.60 degrees dan di sebelah Utara terdapat Laut Jawa pada jarak 9.8 Km dengan arah 1.87 degrees.
Menurut Tim kami, letak situs ini sesuai dengan Pakem Pedalangan, yaitu “Ngayonaken bandaran agung” atau “Menghadap ke arah pelabuhan besar”, lalu “Mengkeraken Wukir” atau “Membelakangi gunung”.
Dari penelusuran yang kami lakukan, ada beberapa nama daerah di utara Situs Tegalarum yang sangat berurutan sebagai urut-urutan adanya kemungkinan besar terdapat bangunan sebuah Kraton di titik tersebut jika diurutkan sesuai Pakem Pedalangan. Nama-nama daerah yang menurut kami patut mendapat perhatian khusus yaitu:
- Kajen yang berarti “terhormat”, dengan temuan ini maka dapat diperkirakan daerah ini adalah bekas dari Siti Hinggil Kraton.
- Tegal Wangi, tegal berarti “tempat yg dipakai menanam”, sehingga lokasi ini dulunya besar kemungkinan digunakan sebagai tempat menanam tanaman yang wangi, biasanya dalam Kraton disebut Taman.
- Grogol dari kata pagrogolan yang artinya kandang harimau, sehingga besar kemungkinan disinilah biasanya dilakukan pemilihan prajurit Kraton.
- Selain itu ada nama Debok Wetan. Debok dalam bahasa jawa adalah batang pohon pisang. Batang pohon pisang biasa digunakan sebagai tempat menambatkan wayang kulit. Sehingga Debok wetan dapat diperkirakan dulunya adalah “Balai Paringgitan Timur” atau” Balai Pewayangan yang di timur”
- Karang anyar berarti “pekarangan baru”
- Mangkukusuman dari kata Mangku atau memangku dan Kusuman berarti kembang, Sehingga menurut telaah kami, daerah ini dulunya adalah tempat untuk menerima perintah Raja yang diibaratkan wanginya bunga. Sehingga dapat diperkirakan daerah ini bekas Pendopo Agung. Panggung biasanya juga berarti Pendopo Agung.
Sementara di arah Selatan situs Tegalarum terdapat tembok lor (Benteng Utara) dan tembok kidul (Benteng Selatan) dan Gunung Slamet. Jika merujuk pada Sastra Kandabuana yang ditulis oleh Ki Dalang Panjang Mas, Gunung yang mempunyai ciri-ciri seperti Gunung Slamet adalah Gunung Jamurdipa. Secara kebetulan Tim kami menemukan sebuah Desa dengan nama Jamurdipa di salah satu lereng Gunung Slamet yang mengarah ke daerah Banyumas, sehingga dapat dikatakan Gunung tersebut adalah Gunung Jamurdipa.
Disebutkan dalam Serat Kandabuana pula bahwa di utara Gunung Jamurdipa dulu terdapat sebuah Kraton yang bernama Wirata Kulon tempat Prabu Matsyapati. Menurut penelusuran Tim kami, ditemukan sebuah desa dengan nama Desa Pendawa di koordinat 7° 0’52.92″S , 109° 8’33.16″E sehingga semakin menambah jelas bahwa daerah ini pernah digunakan bersembunyi para Pandawa sebelum perang Baratha Yudha. Dengan temuan inilah, Tim memperkirakan situs Kraton Tegalarum menempati situs Kraton Wirata Kulon. Panjang situs dari Utara ke selatan sekitar 16 km dan dari timur ke barat sepanjang 12 km.
Gambar 3 Tim berada di depan pintu gerbang Situs Tegalarum
Dari temuan Tim kami, dapat diperkirakan bahwa daerah sekitar Slawi akan banyak ditemukan Candi kuno yang terpendam, karena di era runtuhnya Mojopoit, banyak Kraton dan Candi kuno yang ‘sengaja’ ditimbun agar tersembunyi. Maka, di sekitar Tegal dan Slawi seharusnya perlu diadakan penelitian terhadap bukit-bukit yang dicurigai sebagai bangunan Candi yang tertimbun. Cara untuk menentukan apakah bukit tersebut dicurigai sebagai bangunan Candi adalah dengan ciri-ciri: angker (biasanya masyarakat lokal akan memiliki cerita-cerita yang menyeramkan mengenai keberadaan bukit tersebut) kemudian secara geologis tidak memungkinkan adanya bukit yang tiba-tiba di daerah yang semuanya datar.
Jika penelitian-penelitian ini dilakukan dan mampu mengungkap keberadaan Candi-Candi kuo tersebut maka Mahabarata yang selama ini hanya dianggap Mitos dan di klaim berasal dari India akan menjadi cerita sejarah riil Negara kita dan bukanlah sekedar mitos yang berasal dari negeri India.
Jejak-jejak di Situs Tegalarum
Di dalam Situs Tegalarum sendiri terbuat dari batu bata merah hasil pemugaran dari Kraton Solo. Disini pula terdapat makam Susuhunan Amangkurat satu dan kerabatnya. Namun Tim menemukan adanya kerancuan, karena adaakam Susuhunan Amangkurat Agung juga di Imogiri dan Kotagede. Sementara dalam Serat Kandabuana, beliau diberitakan moksa di Gunung Lawu.
Berdasarkan cerita rakyat dahulu, yang dikatakan bersemayam di Tegalarum ini adalah Payung Keprabon yang disabda menjadi wujud Amangkurat Agung, sedangkan yang di Makam Kotagede adalah Tombak yang dimilikinya dan yang di Makam Imogiri adalah Kerisnya. Karena Amangkurat Agung adalah Raja besar, maka saat meninggal beliau pasti akan di layat oleh banyak rakyat, namun semua orang pada jaman itu mengklaim melihat susuhunan Amangkurat Agung di makamkan di tiga tempat itu.
Ada hal yang khusus terjadi di Situs Tegalarum yaitu dahulu jenazah Susuhunan Amangkurat Agung tidak busuk dan berbau wangi karena ketampanan beliau. Karena itu pulalah maka ada salah satu putri dari Gubernur Jendral Belanda yang jatuh cinta dan sangat terpesona melihat kejadian tersebut dan tidak mau pulang ke Batavia. Peristiwa ini membuat jasad beliau lalu dimakamkan agar putri gubernur jendral Belanda bersedia pulang ke Batavia.
Posted by ulfah | Dunia Pendidikan | Sunday 19 February 2012 11:23 pm
Secara umum bilangan dalam bahasa Inggris dibedakan atas dua yaitu bilangan biasa (cardinal numbers) dan bilangan bertingkat (ordinal numbers).
Cardinal numbers (bilangan biasa)
Daftar bilangan biasa dari 1 sampai 1.000.000
1
one
11
eleven
21
twenty-one
2
two
12
twelve
22
twenty-two
3
three
13
thirteen
23
twenty-three
4
four
14
fourteen
24
twenty-four
5
five
15
fifteen
25
twenty-five
6
six
16
sixteen
26
twenty-six
7
seven
17
seventeen
27
twenty-seven
8
eight
18
eighteen
100
a/one hundred
9
nine
19
nineteen
1,000
a/one thousand
10
ten
20
twenty
1,000,000
a/one million
Pemisahan antara ratusan dan puluhan
Ratusan dan puluhan biasanya dipisahkan dengan “and” (dalam bahasa Inggris Amerika “and” tidak diperlukan).
110 – one hundred and ten
1,250 – one thousand, two hundred and fifty
2,001 – two thousand and one
Ratusan
Gunakan 100 selalu dengan “a” atau “one”
100 – a hundred / one hundred
“a” hanya ditempatkan di awal sebuah bilangan
100 – a hundred / one hundred
2,100 – two thousand, one hundred
Ribuan dan Jutaan
Gunakan 1.000 dan 1.000.000 selalu dengan “a” atau “one”.
1,000 – a thousand / one thousand
201,000 – two hundred and one thousand
Gunakan koma sebagai pemisah.
57,458,302
Tunggal atau Jamak
Bilangan biasanya dituliskan dalam bentuk tunggal.
two hundred Euros
several thousand light years
Bentuk jamak hanya digunakan dengan dozen, hundred, thousand, million, billion, jika tidak dimodifikasi oleh bilangan atau ungkapan lain (seperti a few / several).
hundreds of Euros
thousands of light years
Ordinal numbers (bilangan bertingkat)
Daftar bilangan bertingkat dari 1 sampai 1.000.000
1st
first
11th
eleventh
21st
twenty-first
2nd
second
12th
twelfth
22nd
twenty-second
3rd
third
13th
thirteenth
23rd
twenty-third
4th
fourth
14th
fourteenth
24th
twenty-fourth
5th
fifth
15th
fifteenth
25th
twenty-fifth
6th
sixth
16th
sixteenth
26th
twenty-sixth
7th
seventh
17th
seventeenth
27th
twenty-seventh
8th
eighth
18th
eighteenth
100th
one hundredth
9th
ninth
19th
nineteenth
1,000th
one thousandth
10th
tenth
20th
twentieth
1,000,000th
one millionth
Penulisan bilangan bertingkat
Cukup tambahkan th pada bilangan biasa
four – fourth
eleven – eleventh
Pengecualian:
two – second
three – third
five – fifth
eight – eighth
nine – ninth
twelve – twelfth
Pada bilangan bertingkat yang kompleks, perhatikan bahwa hanya angka terakhir yang dituliskan sebagai bilangan bertingkat:
421st = four hundred and twenty-first
5,111th = five thousand, one hundred and eleventh
Penulisan dalam angka
Jika dituliskan sebagai angka, dua huruf terakhir dari kata yang ditulis ditambahkan ke bilangan bertingkat:
first = 1st
second = 2nd
third = 3rd
fourth = 4th
twenty-sixth = 26th
hundred and first = 101st
Penulisan dalam Titel
Dalam nama raja-raja dan ratu, bilangan bertingkat dituliskan dalam angka Romawi. Dalam bahasa Inggris lisan, the digunakan sebelum bilangan bertingkat.
Charles II – Charles the Second
Edward VI – Edward the Sixth
Henry VIII – Henry the Eighth
Pengucapan nomor telpon
Masing-masing angka disebutkan terpisah.
24 – two four
Angka 0 disebut oh.
105 – one oh five
Berhenti setelah gabungan 3 atau 4 angka (gabungan terakhir).
376 4705 – three seven six, four seven oh five
Jika dua angka yang berdekatan sama, dalam bahasa Inggris Britis kita biasanya menggunakan kata double (dalam bahasa Inggris Amerika kita cukup mengucapkannya dua kali)
376 4775 – Inggris British: three seven six, four double seven five
376 4775 – Inggris Amerika: three seven six, four seven seven five
Macam-macam penyebutan angka ‘0?
nought
-
secara umum (bahasa Inggris British)
zero
-
secara umum (bahasa Inggris Amerika)
oh
-
apabila masing-masing angka disebutkan secara terpisah (misal: dalam nomor telpon, rekening, dll.)
Posted by ulfah | Cerita | Sunday 19 February 2012 2:53 pm
Cerita Tutur Tinular
Cerita atau Film Tutur Tinular memang sangat menarik untuk kita simak dan terus diulang, walaupun sudah sangat lama sekali.
berikut adalah kilasan cerita Tutur Tinular yang bisa kita baca dan kita pelajari.
Tutur Tinular adalah judul sebuah sandiwara radio yang sangat legendaris karya S. Tidjab. Kisah ini menceritakan tentang perjalanan hidup dan pencarian jati diri seorang pendekar yang berjiwa ksatria bernama Arya Kamandanu akan keagungan Tuhan Yang Maha Esa, suatu kisah dengan latar belakang sejarah runtuhnya Kerajaan Singhasari dan berdirinya Kerajaan Majapahit.
Sandiwara radio ini pertama kali mulai disiarkan pada 1 Januari 1989 dan dipancarluaskan lebih dari 512 stasiun radio di seluruh Indonesia, yang tergabung dalam Persatuan Radio Siaran Swasta Nasional Indonesia PRSSNI. Pada tahun 2002, Sandiwara radio Tutur Tinular disiarkan ulang di salah satu radio yang ada di Kota Yogyakarta, yaitu Radio MBS FM Jogja. Tidak hanya itu, bahkan hingga pada bulan Januari 2012, tercatat masih ada beberapa stasiun radio yang menyiarkannya kembali seperti 103,3 FM Radio Karimata, Pamekasan, Madura; 95.6 FM Radio Bintang Tenggara, Banyuwangi; dan 95,2 FM Radio Oisvira, Sumbawa. Disamping itu, beberapa situs online juga masih ada yang memperdengarkan sandiwara radio ini secara live streaming, salah satunya di Radio Streaming Asdisuara Jakarta, milik Asdi Suhastra, yaitu pada pukul 22.00 WIB [1].
Tutur Tinular sendiri berasal dari bahasa Jawa yang berarti “nasihat atau petuah yang disebarluaskan”.
Ringkasan Cerita
S. Tidjab (kiri), pengarang Tutur Tinular bersama dengan Awy Doank (Admin Group Facebook TUTUR TINULAR – MAHKOTA MAYANGKARA – SATRIA KEKASIH DEWA Karya S. TIDJAB) disela – sela rekaman untuk Karya Terbaru beliau Sandiwara Radio Modern “KASIH SEPANJANG JALAN” di Cut2Cut Studio, Jakarta.
Tutur Tinular berkisah tentang seorang pemuda Desa Kurawan bernama Arya Kamandanu, putra Mpu Hanggareksa, seorang ahli pembuat senjata kepercayaan Prabu Kertanagara, raja Kerajaan Singhasari. Pemuda lugu ini kemudian saling jatuh hati dengan seorang gadis kembang desa Manguntur bernama Nari Ratih, putri Rakriyan Wuruh, seorang bekas kepala prajurit Kerajaan Singasari. Namun hubungan asmara di antara mereka harus kandas karena ulah kakak kandung Kamandanu sendiri yang bernama Arya Dwipangga.
Kepandaian dan kepiawaian Dwipangga dalam olah sastra membuat Nari Ratih terlena dan mulai melupakan Kamandanu yang polos. Cinta segitiga itu akhirnya berujung pada peristiwa di Candi Walandit, di mana mereka berdua (Arya Dwipangga dan Nari Ratih) yang sedang diburu oleh api gelora asmara saling memadu kasih hingga gadis kembang desa Manguntur itu hamil di luar nikah.
Kegagalan asmara justru membuat Arya Kamandanu lebih serius mendalami ilmu bela diri di bawah bimbingan saudara seperguruan ayahnya yang bernama Mpu Ranubhaya. Berkat kesabaran sang paman dan bakat yang dimilikinya, Kamandanu akhirnya menjadi pendekar muda pilih tanding yang selalu menegakkan kebenaran dilandasi jiwa ksatria.
Kisah Tutur Tinular ini diselingi berbagai peristiwa sejarah, antara lain kedatangan utusan Kaisar Kubilai Khan, penguasa Dinasti Yuan di negeri Cina, yang meminta Kertanagara sebagai raja di Kerajaan Singhasari menyatakan tunduk dan mengakui kekuasaan bangsa Mongolia. Namun utusan dari Mongolia tersebut malah diusir dan dipermalukan oleh Kertanagara.
Sebelum para utusan kembali ke Mongolia, di sebuah kedai makan terjadilah keributan kecil antara utusan kaisar yang bernama Meng Chi dengan Mpu Ranubhaya, Mpu Ranubhaya berhasil mempermalukan para utusan dan mampu menunjukkan kemahirannya dalam membuat pedang, karena tersinggung dan ketertarikannya terhadap keahlian Mpu Ranubhaya tersebut, kemudian dengan cara yang curang para utusan tersebut berhasil menculik Mpu Ranubhaya dan membawanya turut serta berlayar ke Mongolia, sesampainya di negeri Mongolia di dalam istana Kubilai Khan, Mpu Ranubhaya menciptakan sebuah pedang pusaka bernama Nagapuspa sebagai syarat kebebasan atas dirinya yang telah menjadi tawanan. Namun pada akhirnya pedang Naga Puspa tersebut malah menjadi ajang konflik dan menjadi rebutan diantara pejabat kerajaan. Akhirnya untuk menyelamatkan pedang Naga Puspa dari tangan-tangan orang berwatak jahat, Mpu Ranubhaya mempercayakan Pedang Nagapuspa tersebut kepada pasangan pendekar suami-istri yang menolongnya, bernama Lo Shi Shan dan Mei Shin di mana keduanya kemudian menjadi pelarian, berlayar dan terdampar di Tanah Jawa dan hidup terlunta-lunta. Sesampainya di Tanah Jawa pasangan suami istri ini akhirnya bertemu dengan beberapa pendekar jahat anak buah seorang Patih Kerajaan Gelang-gelang bernama Kebo Mundarang yang ingin menguasai Pedang Naga Puspa hingga dalam suatu pertarungan antara Lo Shi Shan dengan Mpu Tong Bajil (pimpinan pendekar-pendekar jahat) Lo Shi Shan terkena Ajian Segoro Geni milik Mpu Tong Bajil, setelah kejadian pertarungan beberapa hari lamanya Pendekar Lo Shi Shan hidup dalam kesakitan hingga akhirnya meninggal di dunia disebuah hutan dalam Candi tua, sebelum meninggal dunia yang kala itu sempat di tolong oleh Arya Kamandanu, Lo Shi Shan menitipkan Mei Shin kepada Arya Kamanadu
Mei Shin yang sebatang kara kemudian ditolong Arya Kamandanu. Kebersamaan di antara mereka akhirnya menumbuhkan perasaan saling jatuh cinta. Namun lagi-lagi Arya Dwipangga merusak hubungan mereka, dengan cara licik Arya Dwipangga dapat menodai perempuan asal daratan Mongolia itu sampai akhirnya mengandung bayi perempuan yang nantinya diberi nama Ayu Wandira. Namun demikian, meski hatinya hancur, Kamandanu tetap berjiwa besar dan bersedia mengambil perempuan dari Mongolia itu sebagai istrinya.
Saat itu Kerajaan Singhasari telah runtuh akibat pemberontakan Prabu Jayakatwang, bawahan Singhasari yang memimpin Kerajaan Gelang-Gelang. Tokoh ini kemudian membangun kembali Kerajaan Kadiri yang dahulu kala pernah runtuh akibat serangan pendiri Singhasari. Dalam kesempatan itu, Arya Dwipangga yang menaruh dendam akhirnya mengkhianati keluarganya sendiri dengan melaporkan ayahnya selaku pengikut Kertanagara kepada pihak Kadiri dengan tuduhan telah melindungi Mei Shin yang waktu itu menjadi buronan. Mpu Hanggareksa pun tewas oleh serangan para prajurit Kadiri di bawah pimpinan Mpu Tong Bajil. Sebaliknya, Dwipangga si anak durhaka jatuh ke dalam jurang setelah dihajar Kamandanu. Kemudian Kamandanu kembali berpetualang untuk mencari Mei Shin yang lolos dari maut sambil mengasuh keponakannya, bernama Panji Ketawang, putra antara Arya Dwipangga dengan Nari Ratih.
Petualangan Kamandanu akhirnya membawa dirinya menjadi pengikut Raden Wijaya (Nararya Sanggrama Wijaya), menantu Kertanagara. Tokoh sejarah ini telah mendapat pengampunan dari Jayakatwang dan diizinkan membangun sebuah desa terpencil di hutan Tarik bernama Majapahit. Dalam petualangannya itu, Kamandanu juga berteman dengan seorang pendekar wanita bernama Sakawuni, putri seorang perwira Singhasari bernama Banyak Kapuk.
Nasib Mei Shin sendiri kurang bagus. Setelah melahirkan putri Arya Dwipangga yang diberi nama Ayu Wandira, ia kembali diserang kelompok Mpu Tong Bajil. Beruntung ia tidak kehilangan nyawa dan mendapatkan pertolongan seorang tabib Cina bernama Wong Yin.
Di lain pihak, Arya Kamandanu ikut serta dalam pemberontakan Sanggrama Wijaya demi merebut kembali takhta tanah Jawa dari tangan Jayakatwang. Pemberontakan ini mendapat dukungan Arya Wiraraja dari Sumenep, yang berhasil memanfaatkan pasukan Kerajaan Yuan yang dikirim Kubilai Khan untuk menyerang Kertanagara. Berkat kepandaian diplomasi Wiraraja, pasukan Mongolia itu menjadi sekutu Sanggrama Wijaya dan berbalik menyerang Jayakatwang.
Setelah Kerajaan Kadiri runtuh, Sanggrama Wijaya berbalik menyerang dan mengusir pasukan Mongolia tersebut. Arya Kamandanu juga ikut serta dalam usaha ini. Setelah pasukan Kerajaan Yuan kembali ke negerinya, Sanggrama Wijaya pun meresmikan berdirinya Kerajaan Majapahit. Ia bergelar Prabu Kertarajasa Jayawardhana.
Kisah Tutur Tinular kembali diwarnai cerita-cerita sejarah, di mana Kamanadanu turut menyaksikan pemberontakan Ranggalawe, Lembu Sora dan Gajah Biru akibat hasutan tokoh licik yang bernama Ramapati. Di samping itu, kisah petualangan tetap menjadi menu utama, antara lain dikisahkan bagaimana Kamandanu menumpas musuh bebuyutannya, yaitu Mpu Tong Bajil, serta menghadapi kakak kandungnya sendiri (Arya Dwipangga) yang muncul kembali dengan kesaktian luar biasa, bergelar Pendekar Syair Berdarah.
Kisah Tutur Tinular berakhir dengan meninggalnya Kertarajasa Jayawardhana, di mana Arya Kamandanu kemudian mengundurkan diri dari Kerajaan Majapahit dengan membawa putranya yang bernama Jambu Nada, hasil perkawinan kedua dengan Sakawuni yang meninggal setelah melahirkan, dalam perjalanan menuju lereng Gunung Arjuna inilah Arya Kamandanu bertemu dengan Gajah Mada yang waktu itu menyelamatkan putranya ketika masih berumur 40 hari yang terjatuh ke jurang karena lepas dari gendongannya akibat terguncang-guncang diatas kuda. Tutur Tinular kemudian berlanjut dengan sandiwara serupa berjudul Mahkota Mayangkara.
Daftar Pemain dan Tokoh
Para pengisi suara dalam sandiwara radio Tutur Tinular tersebut adalah para artis dari Sanggar Cerita dan Sanggar Prathivi, antara lain:
Ferry Fadli sebagai Arya Kamandanu
M. Aboed sebagai Arya Dwipangga, Ike Mese, Mpu Sasi, Ma Bo Yie, Sokol
Lily Nur Indah Sari sebagai Nari Ratih, Luh Jinggan, Sunggi
Elly Ermawatie sebagai Mei Shin
Eddy Dhosa sebagai Lo Shi Shan, Mantri Segoro Winotan
Ivone Rose sebagai Sakawuni
Asdi Suhastra sebagai Mpu Ranubhaya, serta pembawa cerita untuk seri 091-720
Hari Akik sebagai Mpu Hanggareksa, Kebo Anengah, Gajah Mada
Lukman Tambose sebagai Mpu Tong Bajil, Aki Tangkur, Ki Surabaya
Margareth sebagai Dewi Sambi
Herry Setiono sebagai Sanggrama Wijaya, Murdaja, Kuda Prana, Ra Yuyu
Nusri Nurdin sebagai Lembu Sora, Luruh, Gagak Sali, serta pembawa cerita seri 001-090
Rusli Pontian sebagai Ranggalawe, Suraprabawa, Patih Emban
Haryoko sebagai Kubilai Khan, Nambi, Aki Lumpang, Mpu Renteng, Resi Wisambudi, Resi Mahalalita, Panji Ketawang dewasa
Iwan Dahlan sebagai Pranaraja, Aki Pamungsu, Ki Sugata Brahma, Rake Dukut, Ki Panggala, Mantri Prakrama
Petrus Urspon sebagai Jaran Bangkal, Banyak Kapuk, Jayakatwang, Mei Hua, Gajah Pagon
Narto Bantul sebagai Ardharaja, Adisara, Rembaka, Ki Talat Waja, Ra Wedeng
Idris Apandi sebagai Ramapati, Banyak Kapuk, Macan Kumbang, Watukura
Sono Sudiakso sebagai Arya Wiraraja, Mpu Lunggah, Aki Gumbreg, Rakawikirang
Nenny Haryoko sebagai Ayu Pupu alias Dewi Tunjung Biru, Nyi Pamungsu
Anna Sambayon sebagai Nini Raga Runting, Nyi Lemus, Nyi Kelu, Nyi Pamiji
Mario Kulon sebagai Dangdi, Kaki Tanparoang, Ra Lumbu, Banyak Kapuk,
Rio Sempana sebagai Panji Ketawang kecil
Reneth sebagai Ayu Wandira kecil
Suryadin Tandjung sebagai Jaran Lejong, Pakeling, Kalongpret
Herman Wijaya sebagai Tabib Wong Yin, Silananda Jaya
Yulie Muliana sebagai Werda Murti, Palastri, Kurantil, Mei Shin, Ayu Wandira dewasa
Bambang Jeger sebagai Patih Kebo Mundarang, Sudra Palong
Mamuk Pratomo sebagai Kertanagara, Kebo Kluyur
Wawan GW sebagai Ganggadara, Ki Bokor
Benny Indrahadi sebagai Jarawaha, Shih Pie, Sanding, Kuntir, Sampit, Ra Banyak, Jana Lelung
Sudibyanto sebagai Jaruju, Tambir, Kartawiyoga
Wahyu Chandra sebagai Balawi, Meng Chi, Ki Janawidi
A.P. Burhan sebagai Rakryan Wuruh, Chan Pie, Aki Pamiji, Banyak Dekur, Rake Patanjana, Rana Dikara, Mpu Tanduk, Wong Agung alias Resi Jana Maha Dwija
Eny Budiono sebagai Parwati
Katarina sebagai Nyi Warih
Kasdu Dewa sebagai Dipangkara Dasa, Lembu Sora, Ra Podang
Otis Perkasa sebagai Wong Chau
Armand Donida sebagai Kau Hsing
Budi Klontong sebagai Nambi, Ki Julungwangi
Ai Mudji Rahayu sebagai Nararya Turuk Bali
Bambang Hermanto sebagai Gajah Pagon, Wong Kilur
Wied Harry Apriadjie sebagai Marakeh
Freddy Canser sebagai Medangkungan
Eddy Juni sebagai Linggapati, Puye, Ike Mese, Nambi
Rini Marjan sebagai Sariti, Tribhuwaneswari, Nyi Tumpak Seti
Novia Mandagi sebagai Mahadewi
Jumirah sebagai Pradnya Paramita
Wiwiek sebagai Rajapatni
Mas’ud sebagai Wangsa Halemu
Yayuk Kristanto sebagai Nyi Sepang
Mogan Pasaribu sebagai Ra Pangsa
Elyas sebagai Gajah Biru
Profil Tokoh & Karakter
ARYA KAMANDANU
ARYA KAMANDANU (disuarakan oleh Ferry Fadli), adalah seorang pemuda lugu. Dia adalah putera kedua Empu Hanggareksa (disuarakan oleh Harry Akik), Kamandanu sangat suka mempelajari ilmu kanuragan. Dia diangkat murid oleh kakak seperguruan ayahnya yang bernama Empu Ranubaya (disuarakan oleh Asdi Suhastra). Empu Ranubaya mengajarkan Kamandanu jurus Nagapuspa, yaitu ilmu kanuragan ciptaan Empu Gandring dan Aji Saipi Angin, yaitu ilmu meringankan tubuh yang bisa membuat tubuh seringan kapas. Sayang, ketika Arya Kamandanu sedang giat belajar, Empu Ranubaya dikejar-kejar oleh prajurit Singasari, karena dia dianggap telah menghina Prabu Kertanegara. Kemudian Arya Kamandanu mendalami lagi Jurus Naga Puspa tahap akhir yang tinggalkan Empu Ranubaya di atas sebuah batu. Dengan bantuan Empu Lunggah (disuarakan oleh Sono Sudiyakso) yang merupakan kakak seperguruan tertua ayahnya, Kamandanu mampu menyempurnakan Jurus Naga Puspa. Ilmu Kamandanu semakin hebat setelah dia tergigit ular siluman Naga Puspa Kresna.
Arya Kamandanu kurang beruntung dalam percintaan. Dua kali dia mengalami kekecewaan akibat ulah kakaknya, Arya Dwipangga. Dua wanita yang dicintai Kamandanu, yaitu Nari Ratih (disuarakan oleh Lily Nur Indah Sari) dan Mei Shin (disuarakan oleh Elly Ermawati) dinodai oleh Arya Dwipangga. Ada juga seorang wanita yang sempat singgah di hati Kamandanu, yaitu Luh Jinggan ( juga disuarakan oleh Lily Nur Indah Sari) puteri Empu Lunggah. Kamandanu kemudian menjadi Panglima Majapahit dan menikah dengan Sakawuni (disuarakan oleh Ivonne Rose) dan mempunyai seorang anak laki-laki yang bernama Jambunada.
ARYA DWIPANGGA
ARYA DWIPANGGA (disuarakan oleh M. Aboed) adalah kakak Kamandanu. Dia gemar bersyair dan merayu para wanita dengan syair-syairnya itu. Dia mudah jatuh cinta pada perempuan cantik, meskipun perempuan itu kekasih adiknya sendiri. Pertama dia merebut Nari Ratih dan menikahinya. Dari pernikahannya dengan Nari Ratih Arya Dwipangga memiliki seorang anak laki-laki yang bernama Panji Ketawang (disuarakan oleh Rio Sempana). Beberapa tahun kemudian Dwipangga bertemu dengan Mei Shin. Arya Dwipangga langsung jatuh cinta pada Mei Shin. Lagi-lagi Arya Dwipangga tidak berduli kalau Mei Shin adalah kekasih Kamandanu. Seperti biasa Arya Dwipangga menggunakan syair-syairnya untuk memikat Mei Shin. Namun kali ini syair-syair Arya Dwipangga tidak mampu memikat Mei Shin. Akhirnya Arya Dwipangga menodai Mei Shin dengan menggunakan obat perangsang, sehingga Mei Shin mengandung dan kemudian melahirkan seorang anak perempuan bernama Ayu Wandira (disuarakan oleh Rennet).
Kamandanu sangat marah atas perbuatan Dwipangga itu. Dihajarnya Dwipangga hingga tangannya menjadi cacat. Merasa sakit hati Arya Dwipangga melaporkan Mei Shin kepada pemerintah Kediri, sehingga rumah Empu Hanggareksa diobrak-abrik dan dibakar. Juga Empu Hanggareksa tewas dalam kejadian itu.
Arya Dwipangga mabuk-mabukan dan menyiksa Nari Ratih hingga tewas. Kamandanu murka untuk kedua kalinya. Arya Dwipangga dihajarnya lagi hingga jatuh ke sumur tua. Di dalam sumur tua itu Arya Dwipangga bertemu dengan seorang laki-laki misterius yang bernama Watukura (disuarakan oleh Idris Apandi). Watukura mengajarkan Arya Dwipangga jurus Kidung Pamungkas dan jurus Pedang Kembar. Setelah beberapa tahun lamanya Arya Dwipangga keluar dari sumur tua itu. Dia menjadi seorang pembunuh berdarah dingin. Semua orang yang bertemu dengannya pasti mati. Setiap akan melakukan pembunuhan,Arya Dwipangga selalu bersyair, sehingga dia mendapat julukan Pendekar Syair Berdarah.
Arya Dwipangga akhirnya bertemu lagi dengan Kamandanu di desa Kurawan, tempat tinggal mereka dulu. Dan kedua kakak beradik itu bertarung habis-habisan. Namun Arya Dwipangga tidak mampu mengalahkan Arya Kamandanu. Ia akhirnya melarikan diri.
Arya Dwipangga bertemu dengan Empu Lunggah. Seperti biasa nafsu membunuhnya muncul. Namun dia tidak berdaya melawan Empu Lungga, karena Empu Lunggah menggunakan ilmu Rajut Busana, yaitu sebuah ilmu yang dapat menghilangkan kesaktian seseorang. Arya Dwipangga kehilangan kesaktiannya. Jurus Pedang Kembar dan Kidung Pamungkas tidak berarti lagi.
Tak lama kemudian mata Arya Dwipangga buta. Hal itu disebabkan karena kutukan seorang pertapa yang bernama Resi Wisambudi (disuaran oleh Haryoko) yang telah dibunuhnya.
Arya Dwipangga menyesali semua dosa yang pernah diperbuatnya. Dia ingin bunuh diri, tapi tidak berhasil. Keadaan Arya Dwipangga tak ubahnya seperti pengemis. Dalam keadaan seperti itulah Arya Dwipangga bertemu kembali dengan Mei Shin yang saat itu sudah menjadi tabib terkenal. Awalnya Mei Shin tidak mau menolong Dwipangga, karena hatinya masih terluka akibat ulah Dwipangga yang telah merusak hidupnya. Namun lama-lama Mei Shin kasihan juga pada Arya Dwipangga. Arya Dwipangga akhirnya dibawa ke tempat tinggal Mei Shin.
Dalam Mahkota Mayangkara, yang merupakan lanjutan Tutur Tinular, Arya Dwipangga menikah dengan Mei Shin. Pernikahan itu terjadi karena desakan Ayu Wandira (disuarakan oleh Julie Mulyana) yang menginginkan kedua orangtuanya bersatu. Tentu saja pernikahan itu hanya formalitas saja, karena Mei Shin tetap tidak mau hidup bersama Arya Dwipangga.
Setelah Mei Shin meninggal Arya Dwipangga kembali hidup terlunta-lunta. Namun pada suatu hari Arya Dwipangga bertemu dengan Prabu Jayanegara yang sedang berburu. Prabu Jayanegara tertarik dengan kemampuan Arya Dwipangga bersyair. Akhirnya Arya Dwipangga diangkat menjadi seorang pujangga istana yang bertugas membacakan syair di depan raja. Dia mengganti namanya menjadi Resi Mahasadu.
MEI SHIN
MEI SHIN adalah seorang pendekar wanita berkebangsaan Mongolia. Bersama suaminya Lou Shi San (disuarakan oleh Edi Dhosa), Mei Shin berlayar ke tanah Jawa sambil membawa Pedang Nagapuspa ciptaan Empu Ranubaya. Namun di Tanah Jawa Mei Shin dan suaminya malah dikejar-kejar oleh Para prajurit kediri yang dipimpin oleh Empu Bajil (disuarakan oleh Lukman Tambose) dan Dewi Sambi (disuarakan oleh Margaret). Empu Bajil sangat menginginkan Pedang Nagapuspa. Oleh karena itu dia terus memburu Mei Shin dan Lou Shi San.
Dalam sebuah pertarungan Lou Shi San terluka parah akibat terkena Aji Segara Geni milik Empu Bajil. Namun untunglah Arya Kamandanu yang sedang mengembara datang menolong. Sayang, jiwa Lou Shi San sudah tidak tertolong lagi. Setelah beberapa hari diobati dia pun meninggal. Dari Lou Shi San dan Mei Shin Arya Kamandanu tahu kalau Empu Ranubaya terdampar di negeri Cina karena dibawa oleh utusan Kaisar Kubilai Khan yang telah dipermalukan oleh Prabu Kertanegara. Kemudian dia diminta membuat senjata pusaka oleh Kaisar Kubilai Khan. Karena terancam bahaya, Empu Ranubaya diselamatkan oleh Mei Shin dan Lou Shi San.
Mei Shin lalu ditampung di rumah Arya Kamandanu. Sedikit demi sedikit benih-benih cinta bersemi di hati mereka. Namun prajurit-prajurit Kediri terus memburu Mei Shin. Karena tidak ingin menyusahkan Kamandanu diam-diam Mei Shin pergi.
Kemudian Mei Shin bertemu dengan Arya Dwipangga. Mei Shin tahu kalau Arya Dwipangga mencintainya. Namun dia tidak menanggapinya. Syair-syair Arya Dwipangga hanya dianggap angin lalu saja. Namun obat perangsang membuat Mei Shin tidak sadar, sehingga dia dinodai Arya Dwipangga.
Untunglah Arya Kamandanu mau bertanggung jawab. Dengan hati yang luka Kamandanu menikahi Mei Shin. Mei Shin lalu menyerahkan Pedang Nagapuspa pada Arya Kamandanu.
Ketika rumah Empu Hanggareksa diserbu Prajurit Kediri, Mei Shin berhasil lolos. Kembali dia ddikejar-kejar oleh prajurit Kediri. Namun Mei Shin diselamatkan oleh Nini Raga Runting (disuarakan oleh Ana Sambayon ) dan Kaki Tamparoang (disuarakan oleh Mario Kulon). Mereka adalah sepasang pendekar tua yang mempuni. Nini Ragarunting terkenal dengan senjata andalannya yaitu Selendang Kuning. Sedangkan Kaki Tamparoang terkenal dengan senjatanya yaitu Ikat Kepala Gledek.
Kaki Tamparoang dan Nini Ragarunting berhasil mempertemukan kembali Mei Shin dan Kamandanu. Selama beberapa waktu Mei Shin dan Kamandanu bisa hidup bersama.
Kamandanu tertarik untuk menjadi prajurit Majapahit. Tak Lama setelah Kamandanu pergi, Dewi Sambi dan anak buahnya datang ke lereng Gunung Arjuno dan menyerang tempat tinggal Mei Shin. Mei Shin kembali bertarung melawan Dewi Sambi. Mei Shin terluka parah dan jatuh ke dalam jurang setelah terkena Aji Tapak Wisa milik Dewi Sambi. Untunglah Ayu Wandira dan Panji Ketawang diselamatkan oleh Nini Raga Runting dan Kaki Tamparoang. Kelak Ayu Wandira menjadi murid Nini Raga Runting dan mewarisi jurus Emban Gendong Momongan. Mei Shin ditemukan oleh Tabib Wong Yin (disuarakan oleh Herman Wijaya) dan anak angkatnya Ratanca (disuarakan oleh Yanuar) yang saat itu sedang mencari daun-daunan untuk obat. Mei Shin kemudian dibawa ke tempat Tinggal Tabib Wong Yin. Di sana Mei Shin disembuhkan dari luka-lukanya. Mei Shin tertarik dengan ilmu pengobatan. Dia lalu belajar ilmu pengobatan pada Tabib Wong Yin. Selain ilmu pengobatan, Mei Shin juga mendapat satu ilmu yang bernama ilmu kabegjan, yaitu sebuah ilmu yang bisa melindungi diri dari bahaya selama pimiliknya tidak pernah berbohong. Akhirnya Mei Shin menjadi seorang tabib terkenal dan berganti nama menjdi Nyai Paricara.
Ketika Sang Prabu Kertarajasa Jayawardana sakit keras, Nyai Paricara alias Mei Shin datang ke Majapahit. Bersamaan dengan itu Sakawuni pun melahirkan, sehingga di samping mengobati raja, Mei Shin juga harus menolong persalinan Sakawuni. Sayang dua-duanya tidak tertolong. Mei Shin bertemu lagi dengan Kamandanu, tapi dia tidak mengungkapkan jati dirinya yang sebenarnya. Mei Shin meninggal, karena terkena wabah penyakit Mageleh setelah dia mengobati warga Desa Binor.
SAKAWUNI
SAKAWUNI adalah seorang gadis yang hidupnya ugal-ugalan. Dia adalah cucu Ki Sugata Brahma, Pendekar Lengan Seribu (disuarakan oleh Iwan Dahlan). Untuk melampiaskan dendamnya pada orang-orang Singasari, Sakawuni bergabung dengan orang-orang Kediri. Namun sebenarnya Sakawuni adalah seorang gadis berjiwa pendekar. Dia beberapa kali menolong Mei Shin, Lou Shi San, dan Kamandanu dari gangguan para prajurit kediri secara sembunyi-sembunyi. Dalam sebuah pertarungan melawan Empu Bajil dan kawan-kawannya Kamandanu terluka parah. dia diselamatkan oleh Sakawuni dan dibawa ke rumah kakeknya. Ki Sugata Brahma mengatakan Bahwa luka Kamandanu bisa disembuhkan dengan Bunga Tunjung Biru. Untunglah Sakawuni bertemu dengan Kaki Tamparoang. Atas petunjuk Kaki Tamparoang Sakawuni membawa Kamandanu ke bukit Panampihan untuk meminta Bunga Tunjung Biru pada pemiliknya yaitu Dewi Tunjung Biru (disuarakan oleh Neni Haryoko)
Ternyata Dewi Tunjung Biru adalah ibu kandung sakawuni yang sudah lama menghilang. Sakawuni senang bisa bertmu dengan ibu kandungnya dan luka-luka Kamandanu bisa disembuhkan.
Sakawuni pergi ke Majapahit untuk membunuh Banyak Kapuk, perwira Singasari yang telah meninggalkan ibunya. Hampir saja Banyak Kapuk (disuarakan oleh Petrus Urspon) terbunuh, namun akhirnya Sakawuni sadar dan mau memaafkan ayahnya itu. Dia akhirnya bersedia mengabdi pada Majapahit.
Bersama Arya Kamandanu Sakawuni menjalankan tugas sebagai prajurit Majapahit, termasuk di antaranya adalah menumpas gerombolan perampok yang dipimpin Empu Bajil. Setelah Gerombolan itu dihancurkan, Sakawuni dan Arya Kamandanu menikah.
Sayang, Sakawuni meninggal setelah melahirkan akibat mengalami pendarahan hebat. Sepeninggal Sakawuni Arya Kamandanu mengundurkan diri dari keprajuritan dan kembali menyepi di lereng Gunung Arjuno bersama anaknya.
EMPU BAJIL
EMPU BAJIL adalah pendekar sakti, namun kejam. Pendekar cebol dari Lereng Tengger ini memiliki senjata andalan yaitu tongkat Pencabut Roh dan ilmu pukulan maut yang bernama Aji Segara Geni. Empu Bajil adalah pemimpin kelompok pendekar yang membantu Pemerintah Kediri. Dalam sebuah pertarungan melawan Arya Kamandanu, Tongkat Pencabut Roh patah menjadi dua. Empu Bajil sangat marah. Dia lalu memperdalam Aji Segara Geni di Lereng Tengger. Setelah beberapa bulan lamanya Empu Bajil berhasil memperdalam Aji Segara Geni. Dia kembali turun Gunung. Kembali Empu Bajil bertarung melawan Arya Kamandanu. Mereka bertarung di Lembah Kardama. Dalam pertarungan itu Arya Kamandanu kalah dan Pedang Nagapuspa dapat direbut.
Dengan Pedang Nagapuspa di tangannya Empu Bajil menjadi semakin kuat. Dia dan kelompok perampoknya membuat kekacauan di mana-mana, bahkan kan dia berani membuat kekacauan di Majapahit. Namun Empu Bajil tidak lama memiliki Pedang Nagapuspa. Dengan kekuatan ghaib Nagapuspa Kresna dan Keris Empu Gandring, akhirnya Arya Kamandanu berhasil merebut kembali Pedang Nagapuspa. Dan Empu Bajil pun tewas setelah dadanya terhunjam Keris Empu Ganring. Kepala Empu Bajil pun dibawa ke Majapahit.
DEWI SAMBI
DEWI SAMBI adalah seorang pendekar wanita yang cantik, namun berwajah dingin dan kejam. Dia adalah kekasih Empu Bajil. Dia sangat mencintai Empu Bajil. Dia rela meninggalkan gurunya di Gunung Kawi hanya demi cintanya pada Empu Bajil. Dari hubungannya dengan Empu Bajil, Dewi Sambi mengandung dan memiliki seorang bayi laki-laki yang bernama Layang Samba. Namun Layang Samba dipelihara oleh Dewi Upas (disuarakan oleh Susi), guru Dewi Sambi yang memiliki kesaktian luar biasa. Diantaranya dia menguasai ilmu ular. Dewi Upas bisa memanggil ribuan ular dan memerintahkan mereka melakukan sesuatu.
Dewi Sambi sangat berduka atas kematian Empu Bajil. Dia berusaha membalaskan dendam kematian Empu Bajil kepada Arya Kamandanu. Dia mengirimkan jasad Mpu Bajil yang disertai surat palsu yang berisi tantangan Arya Kamandanu ke Padepokan Tengger. Maksudnya supaya Wong Agung (disuarakan oleh AP Burhan) marah pada Arya Kamandanu. Akan tetapi Wong Agung tidak terpancing, karena dia tahu kalau Empu Bajil adalah seorang jahat. Kemudian Dewi Sambi bersekutu dengan Arya Dwipangga alias Pendekar Syair Berdarah. Bersama-sama mereka melawan Arya Kamandanu. Namun lagi-lagi usahanya tidak berhasil.
Dewi Sambi bertemu kembali dengan Mei Shin. Saat itu Mei Shin sedang dalam perjalanan ke Majapahit untuk mengobati Sang Prabu Kertarajasa Jayawardana. Dewi Sambi tidak menyangka kalau Mei Shin masih hidup. Dewi Sambi kemudian bertarung melawan Mei Shin. Dia ingin membunuh Mei Shin karena Mei Shin dianggap mempunyai hubungan dengan Arya Kamandanu. Namun Dewi Sambi selalu gagal menyarangkan Pukulan Tapakwisanya ketubuh Mei Shin. Setiap kali Aji Tapakwisa akan mengenai dirinya Mei Shin selalu bisa menghindar. Akhirnya Dewi Sambi menggunakan tipu muslihat. Dia berpura-pura minta maaf pada Mei Shin. Ketika Mei Shin sedang lengah, Dewi Sambi membokongnya. Tapi lagi-lagi Dewi Sambi tidak berhasil. Aji Tapakwisa malah membalik pada dirinya, sehingga Dewi Sambi tewas dengan tubuh terpancang di tonggak kayu. Itu adalah akibat kutukan Resi Wisambudi (disuarakan Oleh Haryoko) seorang pertapa yang dibunuhnya bersama Arya Dwipangga.
EMPU RENTENG
EMPU RENTENG (disuarakan oleh Haryoko) adalah seorang pendekar yang tidak banyak bicara. Dia tidak kalah sakti dengan Empu Bajil dan Dewi Sambi. Pendekar dari Gunung Petiri ini mempunyai sebilah pedang ampuh berwarna kuning, sehingga disebut Pedang Kuning. Dengan Pedang Kuning ini Empu Renteng bisa membunuh lawannya dalam waktu beberapa detik. Selain itu dia juga memiliki ilmu kebal yang bernama Blabak Pengantolan. Tak ada senjata yang bisa menembus kulitnya, termasuk senjata pusaka. Ketika terjadi peperangan antara Majapahit melawan Kediri Empu Renteng bertarung melawan Ranggalawe. Empu Renteng mati-matian melawan Ranggalawe. Ternyata Ilmu Blabak Pengantolan tidak mampu menahan tajamnya Keris Megalamat Ranggalawe, sehingga Empu Renteng terluka parah. Empu Renteng akhirnya berpisah dengan Empu Bajil.Dia bermaksud mencari seorang tabib untuk menyembuhkan luka-lukanya. Namun dia malah bertemu dengan musuh lamanya, yaitu Watukura.
Watukura ingin menguji sejauh mana kemampuan Arya Dwipangga yang sudah menguasai Jurus Kidung Pamungkas. Dia menyuruh Arya Dwipangga untuk bertarung melawan Empu Renteng. Tentu saja Empu Renteng yang sedang terluka itu tidak mampu melawan Arya Dwipangga. Akhirnya dia tewas terkena Aji Kidung Pamungkas. Namun pada sisa-sisa kekuatannya Empu Renteng melemparkan Pedang Kuningnya kepada Watukura, sehingga Watukura pun tewas.
NINI RAGA RUNTING DAN KAKI TAMPAROANG
NINI RAGA RUNTING DAN KAKI TAMPAROANG sebenarnya saling mencintai sejak mereka masih sama-sama muda. Namun keduanya tidak mau mengungkapkan cintanya, sehingga sampai hari tua mereka tidak bisa hidup bersama. Keduanya selalu bertarung dan saling ejek setiap bertemu. Nini Ragarunting sering menyebut Kaki Tamparoang dengan sebutan ”sapi ompong”. Dan Kaki Tamparoang menyebut Nini Ragarunting dengan sebutan ”kambingpeot”. Namun keduanya juga saling tolong-menolong jika keadaan sedang genting.
Kaki Tamparoang tewas ketika membantu kemenakannya Gajahbiru yang memberontak terhadap Majapahit. Kematian Kaki Tamparoang sangat tragis. Seluruh tubuhnya tertembus anak panah sampai ke mulutnya. Nini Ragarunting sangat bersedih atas kematian Kaki Tamparoang. Dicabutinya anak-anak panah yang menancap di tubuh Kaki Tamparoang. Kemudian dikuburkannya mayat Kaki Tamparoang.
Sampai akhir hayatnya Nini Ragarunting hidup bersama-sama Ayu Wandira, walaupun beberapa kali sempat terpisah. Bagi Nini Ragarunting Ayu Wandira sudah dianggap sebagai cucunya sendiri.
Daftar Judul Episode
Jumlah keseluruhan kisah Tutur Tinular adalah 720 seri yang terbagi ke dalam 24 episode, atau setiap episode terdiri atas 30 seri dengan durasi kurang lebih 30 menit dan disiarkan
setiap hari. Adapun judul-judul episodenya adalah sebagai berikut :
Pelangi di Atas Kurawan, seri 1-30 (bulan ke-1)
Kisah dari Seberang Lautan, seri 31-60 (bulan ke-2)
Daun-Daun Bersemi Lagi, seri 61-90 (bulan ke-3)
Kemelut Cinta di Atas Noda, seri 91-120 (bulan ke-4)
Perguruan Lopandak, seri 121-150 (bulan ke-5)
Cahaya Fajar Menembus Hutan Tarik, seri 151-180 (bulan ke-6)
Mata Air di Tanah Gersang, seri 181-210 (bulan ke-7)
Angkara Murka Merajalela, seri 211-240 (bulan ke-8)
Badai Mengamuk di Atas Kediri, seri 141-270 (bulan ke-9)
Pemberontakan Ranggalawe, seri 271-300 (bulan ke-10)
Mutiara Ilmu di Atas Batu, seri 301-330 (bulan ke-11)
Nagapuspa Kresna, seri 331-360 (bulan ke-12)
Geger Pedang Nagapuspa, seri 361-390 (bulan ke-13)
Keris Mpu Gandring, seri 391-420 (bulan ke-14)
Kisah Seorang Prajurit Pelarian, seri 421-450 (bulan ke-15)
Pemberontakan Gajah Biru, seri 451-480 (bulan ke-16)
Pendekar Syair Berdarah, seri 481-510 (bulan ke-17)
Dendam Lama dari Kurawan, seri 511-540 (bulan ke-18)
Keluarga Prabu Kertarajasa Jayawardhana, seri 541-570 (bulan ke-19)
Golek Kayu Mandana, seri 571-600 (bulan ke-20)
Pemberontakan Lembu Sora, seri 601-630 (bulan ke-21)
Gelapnya Malam Tanpa Bintang, seri 631-660 (bulan ke-22)
Wong Agung Turun Gunung, seri 661-690 (bulan ke-23)
Mendung Bergulung di Atas Majapahit, seri 661-720 (bulan ke-24)
Selain itu, S. Tidjab juga meluncurkan sekuel kelanjutan Tutur Tinular yang berjudul Mahkota Mayangkara, berkisah tentang Kerajaan Majapahit di bawah pemerintahan Prabu Jayanagara, di mana pada akhirnya terjadi pemberontakan Ra Kuti yang berhasil ditumpas oleh Gajah Mada.
Sebagai lanjutan dari Mahkota Mayangkara, S. Tijab telah mempersiapkan sekuel ketiga berjudul Satria Kekasih Dewa, yang menceritakan generasi anak-anak dari tokoh Tutur Tinular. Namun produksi sekuel yang ketiga ini terhambat karena belum adanya sponsor sebagai penyandang dana.
Film Layar Lebar
Sukses sandiwara radio Tutur Tinular membuat para sineas mengangkat kisah ini ke dalam film layar lebar. Tercatat ada empat film Tutur Tinular dengan judul sebagai berikut:
Tutur Tinular I (Pedang Naga Puspa) (1989)
Artikel utama untuk bagian ini adalah: Tutur Tinular 1 (Pedang Naga Puspa)
Seri pertama ini diproduksi oleh PT. Kanta Indah Film, dengan disutradarai Nurhadi Irawan dan dibintangi Benny G. Raharja sebagai Arya kamandanu, Baron Hermanto sebagai Arya Dwipangga, Yoseph Hungan sebagai Mpu Ranubhaya, Elly Ermawatie sebagai Mei Shin, dan Lamting sebagai Lo Shi Shan.[2]
Kisah diawali dengan kehidupan Arya Kamandanu dan Arya Dwipangga yang memperebutkan gadis kembang desa bernama Nari Ratih. Berlanjut kemudian dengan kedatangan utusan Kaisar Kubilai Khan dari bangsa Mongolia yang menginginkan Prabu Kertanagara menyatakan tunduk. Dalam perjalanan kembali ke negerinya, utusan tersebut menangkap dan membawa serta Mpu Ranubhaya, guru Kamandanu.
Di negeri Cina, Ranubhaya menciptakan Pedang Nagapuspa yang kemudian diserahkan kepada pasangan suami istri Lo Shi Shan dan Mei Shin. Kedua pendekar ini lantas terdampar di Pulau Jawa di mana mereka menjadi buronan para pendekar berwatak jahat yang mengincar Pedang Nagapuspa. Akhirnya Lo Shi Shan terbunuh, sedangkan Mei Shin ditolong oleh Arya Kamandanu.
Tutur Tinular II (Naga Puspa Kresna) (1991)
Artikel utama untuk bagian ini adalah: Tutur Tinular II
Sukses dengan Tutur Tinular 1, PT. Kanta Indah film kembali memproduksi Tutur Tinular 2 dengan Judul Pedang Naga Puspa Kresna. Seri kedua ini disutradarai oleh Abdul Kadir dan Prawoto S. Rahardjo, dengan dibintangi oleh Hans Wanaghi sebagai Arya Kamandanu, sedangkan Mei Shin diperankan oleh Linda Yanoman.
Film dengan durasi 84 menit ini menceritakan kelanjutan dari seri pertama. Setelah kematian suaminya, Mei Shin ditampung oleh Kamandanu. Kecantikan perempuan Cina ini membuat Arya Dwipangga tergoda, meskipun ia sudah mempunyai istri. Terjadilah pemerkosaan dengan memanfaatkan obat bius, di mana Mei Shin sampai mengandung. Meskipun sakit hati karena ulah kakaknya, Kamandanu tetap berjiwa besar mau menikahi Mei Shin. Kemudian Mei Shin memberikan Pedang Nagapuspa kepada Kamandanu.
Dwipangga yang sakit hati melaporkan ke Kediri bahwa pedang Naga puspa berada di tangan Kamandanu. Akibatnya, pihak Kediri pun menyerang rumah ayahnya. Dalam serangan itu Mpu Hanggareksa, ayah Dwipangga dan Kamandanu, terbunuh.
[3]
Tutur Tinular III (Pendekar Syair Berdarah) (1992)
Artikel utama untuk bagian ini adalah: Tutur Tinular III
Tutur Tinular 3 di produksi PT. Elang Perkasa Film, dengan sutradara Prawoto S. Rahardjo yang dibintangi Sandy Nayoan sebagai Arya Kamandanu, dan Baron Hermanto sebagai Arya Dwipangga.
Seri ketiga ini mengisahkan kekacauan di wilayah Kerajaan Majapahit akibat ulah Arya Dwipangga yang muncul kembali sebagai Penddekar Syair Berdarah. Di lain pihak juga muncul Mpu Tong Bajil yang menculik beberapa anak kesatria demi menyempurnakan ilmu silatnya. Salah satu yang ia culik adalah Panji Ketawang, anak Dwipangga yang diasuh Kamandanu.
Terjadilah pertarungan segitiga antara Kamandanu, Dwipangga, dan Bajil. Kamandanu yang terluka parah ditolong istrinya, yaitu Sakawuni dan dibawa ke tempat Mpu Lunggah. Berkat pertolongan Mpu Lunggah dan putrinya yang bernama Luh Jinggan, Kamandanu dapat pulih kembali dan mengalahkan Mpu Bajil.
[4]
Tutur Tinular IV (Mendung Bergulung di Atas Majapahit) (1992)
Artikel utama untuk bagian ini adalah: Tutur Tinular IV
Seri keempat yang disutradarai Jopijaya Burnama ini mengisahkan intrik yang ditimbulkan Ramapati (diperankan Remy Sylado) untuk menyingkirkan Arya Kamandanu (kembali diperankan Benny G. Rahardja) dari Kerajaan Majapahit. Selain itu, Ramapati juga berusaha membunuh Sanggrama Wijaya raja Majapahit, dan menggantinya dengan putra mahkota, Jayanagara, agar bisa menjadi raja boneka bagi dirinya.
Ulah Ramapati tersebut mendapat bantuan seorang wanita bernama Dewanggi (diperankan Fitria Anwar, serta dengan memperalat Dewi Sambi (istri Mpu Bajil) sebagai penebar racun. Rencana jahat meracuni raja tersebut dapat digagalkan Kamandanu yang membawa tabib bernama Nyai Paricara, yang tidak lain adalah Mei Shin.
[5]
Serial Televisi
Tutur Tinular versi 1997
Sukses dalam sandiwara radio dan film layar lebar, Tutur Tinular kemudian diangkat ke layar perak oleh PT. Genta Buana Pitaloka pada tahun 1997. Serial ini disutradarai oleh Muchlis Raya dan skenario ditulis oleh Imam Tantowi. Stasiun televisi yang pertama kali menayangkannya adalah ANTeve (Season 1), Indosiar (Season 2) dan RCTI (Season 3).
Sukses di ANTeve, sinetron serial Tutur Tinular kemudian dilanjutkan ke bagian dua yang ditayangkan di Indosiar. Adapun bagian pertama berkisah tentang kehidupan awal Arya Kamandanu sampai peresmian Sanggrama Wijaya sebagai raja Kerajaan Majapahit. Sementara bagian kedua berkisah tentang pemberontakan Ranggalawe sampai pemberontakan Ra Kuti. Dengan demikian, serial sinetron Tutur Tinular merupakan visualisasi gabungan dua sandiwara radio, yaitu Tutur Tinular dan Mahkota Mayangkara.
Setelah sukses ditayangkan di dua stasiun televisi yaitu ANTeve, Indosiar dan RCTI, Gentabuana Pitaloka mengubah format serial tersebut menjadi FTV (film televisi) dengan total keseluruhan berjumlah 27 episode, yaitu:
Para pemeran serial Tutur Tinular: Anto Wijaya, Murti Sari Dewi, Li Yun Juan, Lamting, dengan latar belakang Tembok Besar Cina.
Kidung Cinta Arya Kamandanu
Wasiat Mpu Gandring
Pelangi di Langit Singasari
Pedang Naga Puspa
Pertarungan di Candi Sorabhana
Kembang Gunung Bromo
Balada Cinta Mei Shin
Satria Majapahit
Bunga Tunjung Biru
Ayu Wandira
Prahara di Gunung Arjuno
Senjakala di Kediri
Mahkota Majapahit
Tragedi di Majapahit
Jurus NagapPuspa
Misteri Keris Penyebar Maut
Pengorbanan Mei Shin
Pendekar Syair Berdarah
Dendam Arya Dwipangga
Korban Birahi
Prahara Naga Krisna
Karmaphala
Wanita Persembahan
Pangeran Buron
Pemberontakan Nambi
Pemberontakan Ra Semi
Gajahmada
Adapun para artis yang membintangi serial ini antara lain:
Anto Wijaya sebagai Arya Kamandanu
Piet Ermas sebagai Arya Dwipangga
Devy Zuliaty sebagai Nari Ratih
Murti Sari Dewi sebagai Sakawuni
Lamting sebagai Lo Shi Shan
Agus Kuncoro sebagai Raden Wijaya atau Prabu Kertarajasa Jayawardhana
Chairil JM sebagai Mpu Ranubhaya
Hendra Cipta sebagai Mpu Hanggareksa
Syaiful Anwar sebagai Mpu Tong Bajil
Anika Hakim sebagai Dewi Sambi
Tizar Purbaya sebagai Prabu Kertanagara
Piet Pagau sebagai Prabu Jayakatwang (season 1) dan Mpu Lunggah (season 2)
Nungki Kusumastuti sebagi Nararya Turukbali
Hadi Leo sebagai Lembu Sora
Herbi Latul sebagai Ranggalawe
Candy Satrio sebagai Patih Nambi
Rayvaldo Luntungan sebagai Dyah Halayudha
Rizal Muhaimin sebagai Ardharaja (season 1) dan Ra Tanca (season 2)
Johan Saimima sebagai Patih Kebo Mundarang
Irgy Ahmad Fahrezi sebagai Prabu Jayanagara
Hans Wanaghi sebagai Meng Chi
Wingky Harun sebagai Ki Tanparowang
Dian Sitoresmi sebagai Nini Ragarunting
Lilis Suganda sebagai Dewi Tunjung Biru (season 1) dan Tribhuwaneswari (season 2)
Teddy Uncle sebagai Pranaraja (season 1) dan Mpu Wahana (season 2)
Rizal Djibran sebagai Ra Kuti
Yuni Sulistyawati sebagai Palastri (season 1) dan Sitangsu (season 2)
Wulan Guritno sebagai Praharsini
Trixie Fadriane sebagai Ayu Wandira kecil
Suzan Meilia sebagai Ayu Wandira dewasa
Benny Burnama sebagai Ki Pamungsu
Bambang Suryo sebagai Arya Wiraraja
Rendy Bramasta sebagai Banyak Kapuk
Deo sebagai Jambunada
M. Iqbal sebagai Panji Ketawang kecil
Sawung Sembadha sebagai Panji Ketawang remaja
Rizal Fadli sebagai Panji Ketawang dewasa
Eddy Dhosa sebagai Kuda Prana
Rifky Al Farez sebagai Gajah Mada (season 2)
Khusus untuk adegan pembuatan Pedang Naga Puspa yang dikisahkan terjadi di istana Kubilai Khan, tidak segan-segan para artis dan kru sinetron ini melakukan pengambilan gambar di Cina seperti di Tembok Besar China dan beberapa tempat lainnya, dengan menggandeng Studio Cho Cho Beijing untuk bekerja sama. Penyutradaraan selama pengambilan gambar di Cina dikerjakan oleh Prof. Mu Tik Yen sutradara kenamaan asal China spesialis sinema kolosal. Adapun para artis Cina yang ikut terlibat dalam pembuatan seri ini adalah:
Li Yun Juan sebagai Mei Shin
Ba Sang sebagai Kau Hsing
Tian Wei Dong sebagai Kubilai Khan
Tidak hanya itu, Li Yun Juan melanjutkan perannya untuk penggambilan gambar di Indonesia sebagai Mei Shin yang merupakan tokoh utama wanita dalam serial ini.
Dalam sinetron tersebut digunakan teknologi dubbing, yang masih menggunakan suara para artis PT. Prathivi Kartika Film sebagaimana versi sandiwara radio. walaupun ada beberapa tokoh yang tidak di dubbing oleh pengisi suara yang sebenarnya sebagaimana penokohan dalam sandiwara radionya, sinetron ini masih patut untuk di tonton, seperti contohnya tokoh Arya Dwipangga yang dalam sandiwara radio di perankan oleh M. Aboed namun dalam sinetron ini dubbing oleh Petrus Urspon walau akhirnya pada season kedua tokoh Arya Dwipangga akhirnya di dubbing juga oleh tokoh aslinya dalam sandiwara radio yaitu M. Aboed, dalam berbagai judul sandiwara radio M. Aboed adalah spesialis untuk tokoh dengan aksen-aksen suara yang khusus untuk melantunkan syair-syair seperti dalam tokoh Arya Dwipangga ini yang dalam penokohannya adalah seorang sastrawan dan seorang pendekar yang selalu melantunkan syair-syair yang indah dan mengerikan, dengan syairnya Arya Dwipangga mampu menaklukkan banyak wanita namun dengan syairnya juga ia mampu melukai bahkan membunuh para musuh-musuhnya.
Penyampaian penanggalan dalam belajar bahasa Inggris memiliki perbedaan untuk bahasa lisan dan tulisan.
Tanggal dalam bahasa Inggris tertulis
Bahasa Inggris British
Dalam bahasa Inggris British, hari biasanya dituliskan sebelum bulan. Jika kita mau, kita bisa menambahkan akhiran bilangan bertingkat (st, nd, rd, atau th). Preposisi of sebelum bulan biasanya dihilangkan. Kita bisa memasang tanda koma sebelum tahun, tetapi ini tidak umum lagi dalam bahasa Inggris British.
Contoh: 5(th) (of) October(,) 2004
Bahasa Inggris Amerika
Dalam bahasa Inggris Amerika kita juga bisa menuliskan tanggal hanya dengan menggunakan angka. Bentuk yang paling umum adalah:
Contoh: 5/10/04 atau 5-10-04
Perlu diperhatikan bahwa 5/10/04 biasanya berarti tanggal 5 Oktober 2004 dalam bahasa Inggris Britis, dan dalam bahasa Inggris Amerika bisa berarti tanggal 10 Mei 2004. Untuk menghindari kerancuan ini, anda harus mengeja bulan atau menggunakan singkatan.
Tanggal dalam bahasa Inggris lisan
Jika kita menempatkan hari sebelum bulan, gunakan the sebelum hari dan preposisi of sebelum bulan.
5 October 2004 – the fifth of October, two thousand and four
Jika kita menempatkan bulan sebelum hari, gunakan the sebelum hari (bahasa inggris British) atau the bisa dihilangkan (bahasa inggris Amerika).
October 5, 2004 – October (the) fifth, two thousand and four
Cara mengucapkan tahun
Mulai tahun 2000 ke atas, tahun dieja seperti bilangan biasa.
2000 – two thousand
2003 – two thousand and three
Untuk tahun 2000 ke belakang, tahun dieja berbeda: dua angka pertama adalah satu bilangan dan dua angka terakhir adalah satu bilangan. Kedua satuan bilangan ini bisa digabungkan dengan hundrend and, yang sebenarnya hanya perlu jika dua angka terakhir adalah 00 sampai 09.
1999 – nineteen (hundred and) ninety-nine
1806 – eighteen hundred and six / eighteen oh six
Jika kita ingin menggunakan tahun tanpa tanggal pasti, gunakan preposisi in:
I was born in 1972.
Untuk membedakan tanggal sebelum dan setelah Maserhi, gunakan BC dan AD:
Posted by ulfah | Dunia Pendidikan | Saturday 18 February 2012 4:37 am
Belajar dengan Angka (Number)
Secara global bilangan dalam bahasa Inggris dibedakan menjadi dua yaitu bilangan biasa (cardinal numbers) dan bilangan bertingkat (ordinal numbers).
Untuk pengucapannya silakan lihat pada Video berikut,
Cardinal numbers (bilangan biasa)
Daftar bilangan biasa dari 1 sampai 1.000.000
1
one
11
eleven
21
twenty-one
2
two
12
twelve
22
twenty-two
3
three
13
thirteen
23
twenty-three
4
four
14
fourteen
24
twenty-four
5
five
15
fifteen
25
twenty-five
6
six
16
sixteen
26
twenty-six
7
seven
17
seventeen
27
twenty-seven
8
eight
18
eighteen
100
a/one hundred
9
nine
19
nineteen
1,000
a/one thousand
10
ten
20
twenty
1,000,000
a/one million
Pemisahan antara ratusan dan puluhan
Ratusan dan puluhan biasanya dipisahkan dengan “and” (dalam bahasa Inggris Amerika “and” tidak diperlukan).
110 – one hundred and ten
1,250 – one thousand, two hundred and fifty
2,001 – two thousand and one
Ratusan
Gunakan 100 selalu dengan “a” atau “one”
100 – a hundred / one hundred
“a” hanya ditempatkan di awal sebuah bilangan
100 – a hundred / one hundred
2,100 – two thousand, one hundred
Ribuan dan Jutaan
Gunakan 1.000 dan 1.000.000 selalu dengan “a” atau “one”.
1,000 – a thousand / one thousand
201,000 – two hundred and one thousand
Gunakan koma sebagai pemisah.
57,458,302
Tunggal atau Jamak
Bilangan biasanya dituliskan dalam bentuk tunggal.
two hundred Euros
several thousand light years
Bentuk jamak hanya digunakan dengan dozen, hundred, thousand, million, billion, jika tidak dimodifikasi oleh bilangan atau ungkapan lain (seperti a few / several).
hundreds of Euros
thousands of light years
Ordinal numbers (bilangan bertingkat)
Daftar bilangan bertingkat dari 1 sampai 1.000.000
1st
first
11th
eleventh
21st
twenty-first
2nd
second
12th
twelfth
22nd
twenty-second
3rd
third
13th
thirteenth
23rd
twenty-third
4th
fourth
14th
fourteenth
24th
twenty-fourth
5th
fifth
15th
fifteenth
25th
twenty-fifth
6th
sixth
16th
sixteenth
26th
twenty-sixth
7th
seventh
17th
seventeenth
27th
twenty-seventh
8th
eighth
18th
eighteenth
100th
one hundredth
9th
ninth
19th
nineteenth
1,000th
one thousandth
10th
tenth
20th
twentieth
1,000,000th
one millionth
Penulisan bilangan bertingkat
Cukup tambahkan th pada bilangan biasa
four – fourth
eleven – eleventh
Pengecualian:
two – second
three – third
five – fifth
eight – eighth
nine – ninth
twelve – twelfth
Pada bilangan bertingkat yang kompleks, perhatikan bahwa hanya angka terakhir yang dituliskan sebagai bilangan bertingkat:
421st = four hundred and twenty-first
5,111th = five thousand, one hundred and eleventh
Penulisan dalam angka
Jika dituliskan sebagai angka, dua huruf terakhir dari kata yang ditulis ditambahkan ke bilangan bertingkat:
first = 1st
second = 2nd
third = 3rd
fourth = 4th
twenty-sixth = 26th
hundred and first = 101st
Penulisan dalam Titel
Dalam nama raja-raja dan ratu, bilangan bertingkat dituliskan dalam angka Romawi. Dalam bahasa Inggris lisan, the digunakan sebelum bilangan bertingkat.
Charles II – Charles the Second
Edward VI – Edward the Sixth
Henry VIII – Henry the Eighth
Pengucapan nomor telpon
Masing-masing angka disebutkan terpisah.
24 – two four
Angka 0 disebut oh.
105 – one oh five
Berhenti setelah gabungan 3 atau 4 angka (gabungan terakhir).
376 4705 – three seven six, four seven oh five
Jika dua angka yang berdekatan sama, dalam bahasa Inggris Britis kita biasanya menggunakan kata double (dalam bahasa Inggris Amerika kita cukup mengucapkannya dua kali)
376 4775 – Inggris British: three seven six, four double seven five
376 4775 – Inggris Amerika: three seven six, four seven seven five
Macam-macam penyebutan angka ‘0?
nought
-
secara umum (bahasa Inggris British)
zero
-
secara umum (bahasa Inggris Amerika)
oh
-
apabila masing-masing angka disebutkan secara terpisah (misal: dalam nomor telpon, rekening, dll.)